MT Farm Camp, Program Praktek Kerja Lapangan / Magang Plus Upgrading Keilmuan

MT FARM CAMP
MT Farm Camp adalah program magang/Praktek Kerja Lapangan periode Juli-Agustus 2018 yang berbasis data dan empiris serta dipadukan dengan pembentukan mental & karakter peserta.

KETENTUAN MAGANG:
1. Membawa perlengkapan : sepatu boot, pakaian ganti, peralatan mandi, perlengkapan ibadah, senter, jas hujan, sandal jepit, selimut / jaket, kaos kaki, jas hujan, obat-obatan pribadi (jika ada), laptop (minimal 3 orang membawa 1 laptop).
2. Tidak mendapat gaji, uang transport, uang makan maupun penginapan.
3. Menjaga nama baik diri pribadi, kampus & CV. Mitra Tani farm.
4. Siap menjalankan tata tertib yang berlaku.

MATERI & KEGIATAN MAGANG/PRAKTEK KERJA LAPANG :

1. Produksi Di Kandang (Dibimbing oleh Amrul Lubis, S.Pt)
Materi utama : management pakan, penggemukan & pengembangbiakan

2. Peningkatan Teori & Wawasan Peternakan (Dibimbing oleh Mochamad Afnan Wasom, S.Pt)
Materi utama : A-Z tentang beternak kambing & domba

3. Business Start Up (Dibimbing oleh M. Wildan, S.Pt. & Budi Susilo Setiawan, S.Pt)
Materi utama : Memulai Usaha Peternakan & Membangun Team

4. Character Building & Outbound (A.S.B. Nasution, Team SAR)
Materi utama : Camping (3 pekan), pembinaan karakter & mental, pengenalan alat-alat rescue & cara penggunaannya, repling

5. Pengolahan Pasca Panen (Team MT Farm)
Materi utama :
 Latihan penyembelihan & pengulitan (Asep Erwan, A.Md)
 Membuat masakan kambing guling, gulai & sate (Pak Tono, juru masak Salamah Aqiqah)
 Membuat rendang dalam kemasan kaleng (Siti Aisyah, S.Pt & Asep Priatna Kusumah, S.Pt)
 Membuat yogurt & kevir (Siti Aisyah, S.Pt)

6. Online Marketing (Team Marketing)
Materi utama : Riset Online & memanfaatkan media gratisan untuk bisnis

7. Pembinaan Masyarakat di kampung & sekolahan sekitar CV. Mitra Tani farm

8. MATERI KHUSUS : Management penjualan & transportasi menjelang Idul Adlha

9. Refreshing : Mendaki Gunung Gede / Pangrango

PESERTA MAGANG HARUS MENTAATI TATA TERTIB :
1. Pakaian
Diwajibkan memakai pakaian yang rapi & sopan, dianjurkan untuk selalu menggunakan pakaian seragam praktek.
2. Perilaku
Berperilaku sopan di lingkungan magang, jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan mematuhi semua tata tertib.
3. Kehadiran
 Peserta magang harus hadir tepat waktu sebagaimana yang dijadwalkan
 Peserta magang yang sakit wajib membawa surat dokter
Apabila peserta magang alpa (tidak mengikuti kegiatan tanpa keterangan), wajib mengganti hari atau mengerjakan tugas tambahan

BAGI PESERTA MAGANG YANG MELANGGAR TATA TERTIB Dan Ketentuan Yang Berlaku Tersebut Di Atas, Maka Akan Dikenakan Sanksi Sebagai Berikut :
• Peringatan lisan atau tidak diperbolehkan masuk praktek dan magang.
• Pemutusan kerja praktek/magang dengan surat peringatan ke lembaga yang bersangkutan dan tanpa diberikan sertifikat.

JADWAL KEGIATAN:
04.30-06.00 sholat shubuh, sharing & briefing
06.00-06.30 mandi & sarapan
06.30-08.30 aktifitas sesuai job
08.30-09.00 istirahat
09.00-12.00 di kelas
12.00-13.00 sholat, istirahat & makan
13.00-15.00 aktifitas sesuai job
15.00-15.45 sholat & istirahat
15.45-17.00 materi character building
17.00-19.30 sholat maghrib & isya, istirahat
19.30-21.00 materi character building
21.00-04.00 istirahat

Info Lebih Lanjut, Silakan Hubungi :
CV. Mitra Tani Farm
Jl. Baru Manunggal 51 No. 39 Rt 04/05 Tegalwaru, Ciampea, Kab. Bogor, Jawa Barat 16620
Telp./SMS/WA 085 773 222 212 (Indosat)
Online Media :
Web: http://mitratanifarm.co.id
IG: https://www.instagram.com/mitratanifarm
Fb: https://www.facebook.com/mitratanifarm

Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Punya Ternak

Permasalahan peternak Indonesia adalah kualitas produk peternakan masih fluktuatif.

REPUBLIKA.CO.ID, B0GOR — Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan Workshop Peternakan dan Lomba Business Model Canvas (BMC), Sabtu (28/4).  Bertempat di Auditorium Janes Humuntal Hutasoit (JHH), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB,  Dramaga, Bogor, seminar ini mengangkat tema “Meningkatkan Pengetahuan tentang Prospek Peternakan kepada Masyarakat Umum khususnya Pra Pensiun dengan Basis Agribisnis Peternakan.

Acara ini dihadiri sekitar 120 orang dari berbagai kalangan,  antara lain  mahasiswa IPB, mahasiswa dan masyarakat umum.

Seminar ini membahas prospek, peluang serta praktik bisnis peternakan di lapangan. Para pakar dan praktisi di bidang peternakan yang hadir menjadi narasumber adalah Dr Sri Rahayu (dosen Fapet IPB), Budi Susilo Setiawan (pemilik MT Farm), Subarkah dan Ahmad Anwari (peternak jangkrik Bekasi).

Peternak sukses yang merupakan alumni IPB, Budi Susilo Setiawan dalam paparannya mengatakan,  permasalahan yang dihadapi peternak Indonesia adalah  kualitas produk peternakan yang masih fluktuatif. Intinya, dalam bisnis itu pengusaha harus baik dalam setiap urusan.

Budi merasakan banyak keberkahan dalam usahanya di dunia peternakan. Dari beternak, alumni Fapet IPB ini bahkan sekarang mempunyai usaha catering, properti dan agrowisata.

“Apapun usaha yang kita akan lakukan, cukup berpegang pada empat hal yaitu yakin bahwa usaha ini adalah hal baik, berusaha optimal, perbanyak ilmu dan sabar. Jangan sampai anak peternakan tidak punya ternak atau tidak bisa jualan ternak. Bisnis itu bicara realistis bukan idealis. Ketika karkas impor yang lebih murah hadir menjadi ancaman bagi peternak, kita harus bergerak cepat,“ ujar Budi dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Rabu (2/5).

Dr  Sri Rahayu menjelaskan tentang perkembangan dunia peternakan Kambing Domba (Kado) di Indonesia. Mulai dari prospek ternak, populasi Kado, keunggulan ternak Kado, membantah stigma negatif mengenai daging Kado yang tinggi kolesterol serta membandingkan sistem pemeliharaan Kado di Indonesia dan di negara lain (Australia dan New Zealand).

Mahasiswa IPB harus punya peternakan.

 

Selain kambing dan domba, peserta juga mendapatkan ilmu mengenai bisnis dan usaha jangkrik. Bisnis jangkrik ini masih awam di kalangan masyarakat. Padahal prospek jangkrik sangat prospektif merujuk pada permintaan pasar yang tinggi, tidak membutuhkan investasi yang besar dalam memulai usaha serta dapat dilakukan di tempat yang sempit.

Proses panen yang memakan waktu singkat (hanya sekitar 22 hari) ini menjadikan usaha ternak jangkrik sangat potensial untuk dikembangkan.

“Kita harus memiliki pengetahuan dalam beternak jangkrik, paham pasar jangkrik seperti apa, membuat kandang yang sesuai, manajemen pakan yang baik dan melakukan kontrol rutin. Resiko terbesar usaha ternak jangkrik terletak pada serangan predator karena dapat mengurangi jumlah jangkrik yang dapat dipanen ataupun dalam proses peneluran bibit jangkrik. Namun, dengan perlakuan yang tepat hal ini dapat diantisipasi,” sebut Anwari dan diamini oleh Subarkah.

Pada kesempatan ini, diumumkan Juara I untuk kompetisi Business Model Canvas (BMC) diraih oleh mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman (PTN) IPB.  Tim yang terdiri dari Natassa Kusumawardani, M. Gagah Saptarengga, Rima Wulansari dan Melinda Agustina ini melahirkan produk “criquet cakes”, cake lezat berbahan dasar tepung jangkrik.

 

Sumber : republika.co.id

 

Daftar Peserta Sosialisasi WUB Jabar 2017 Bidang Usaha Peternakan Domba

Daftar Peserta Sosialisasi WUB Jabar 2017 Bidang Usaha Peternakan Domba

Peningkatan Sumber Daya Manusia merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas usaha. Berkenaan dengan hal tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengembangkan Program Pencetakan Seratus Ribu Wirausaha Baru yang bertujuan untuk melahirkan para Wirausaha Baru yang inovatif, kreatif dan mandiri serta berdaya saing.

Pengembangan kewirausahaan merupakan salah satu upaya untuk menggali potensi dan kompetensi sumber daya manusia di Jawa Barat dalam mendukung penyerapan lapangan kerja dan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal untuk menghadapi kompetisi tersebut bukan hanya sekedar komunikasi namun pengetahuan dan kemampuan/skill sangat diperlukan dalam mengembangkan kualitas SDM termaksud.

Pencetakan Seratus Ribu Wirausaha Baru di Jawa Barat telah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 79 Tahun 2015, hal ini telah memberikan jaminan dan kepastian atas eksistensi masyarakat untuk mengembangkan kewirausahaan dan Pemerintah akan memfasilitasi akses kelembagaannya, penciptaan pasar dan akses pembiayaannya. Kegiatan tersebut dilakukan secara terpadu dengan menggunakan strategi “Jabar Masagi” yang melibatkan berbagai tingkatan Pemerintahan, Akademisi, Komunitas dan Dunia Usaha.

Pencetakan Seratus Ribu Wirausaha Baru di lingkungan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Barat dilakukan dengan tahapan pelatihan, pemagangan dan pendampingan/mentoring kewirausahaan.

Program Pencetakan Seratus Ribu Wirausaha Baru Jawa Barat adalah program pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berupaya secara bertahap mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui Program dan Kegiatan yang langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.

Nama-nama peserta Sosialisasi WUB Jabar 2017 Bidang Usaha Peternakan Domba bisa dilihat disini (lihat daftar peserta)

Pelaksanaan : Selasa, 28 November 2017, pukul 08.00 s.d Selesai

UPDATE 21 November 2017 : Sehubungan akan ada evaluasi AUTS pada tanggal 28 November 2017, maka kegiatan sosialisasi WUB Jabar bidang usaha peternakan domba diundur menjadi hari Kamis tanggal 30 November 2017.

Lokasi kegiatan: Rumah Joglo, Desa Wisata UKM Tegal Waru, Kec. Ciampea, Kab. Bogor, Jawa Barat

Perluas Usaha Dengan Bermitra – CV. Mitra Tani Farm

Bermula dari berjualan domba milik peternak, kini MT farm menjelma menjadi salah satu peternakan yang cukup diperhitungkan.

Cermat mengamati celah bisnis menjadi kunci Mitra Tani (MT) Farm tetap eksis dalam usaha peternakan kambing-domba (kado). Peternakan yang digawangi oleh Budi Susilo S, Amrul L, Bahrudin, serta M. Afnaan W dirintis sejak September 2004. Mereka bersama-sama mengarungi berbagai tantangan yang terus berkembang.

Dari Jualan

M Afnaan W, salah satu pemilik MT Farm, mengutarakan, dari keinginan mencari pemasukan tambahan semasa kuliah pada 2002, ia dan ketiga temannya mempunyai ide untuk menjajakan domba milik peternak di wilayah bogor dan sekitarnya. “Jadi saat teman-teman liburan, kita main ke pasar kambing,” terang Afnaan, sapaannya, kepada AGRINA di lokasi peternakannya yang bertempat di Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jabar.

Usaha pertamanya ini sukses menjual 25 ekor domba. Tidak berhenti sampai di situ, ia pun melakukan penggemukan domba sendiri selama 3-4 bulan. Tahun berikutnya, ia berhasil menjual 86 ekor. “Kita dapat bantuan dana dari kampus sebesar Rp7,3 juta dan kembali menjadi Rp10,5 juta,” ingatnya.

Peningkatan penjualan terjadi pada 2004 tercatat 150 ekor terjual, sebanyak 750 ekor terjual pada 2005  dan pada 2006 terjual 1.500 ekor.  Kurun 2007-2010 rata-rata penjualanya 2 ribu ekor, tapi pada periode 2011-2014 penjualan merosot ratra-rata hanya 1.500 ekor. Penurunan ini lantaran, menggunakan pola pemasaran system grosir. “Kalau grosir itu ‘kan sekali banyak, jadi kita melayani pedagang untuk dijual lagi. Kini fokus pada penjualan retail atau langsung end user. Pembayaran lebih nyaman dan kerja lebih ringan,” jelasnya.

Tidak hanya untuk pasar kurban, Afnaan melakukan beragam cara untuk melego ternaknya, seperti melalui penjualan ke pemotongan hingga memasok ke jasa katering dan akikah serta restoran. Kebutuhan kado untuk akikah pun tidak kalah menggiurkan. “Kebutuhan kado ini tinggi banget. Ada jasa katering akikah di Jabodetabek yang punya 15 cabang, satu cabang butuh 100-200 ekor sebulan. Jadi satu manajemen kartering akikah butuh 3 ribu ekor/bulan. Itu baru satu manajemen belum yang lain,” ulas sarjana lulusan Fakultas Peternakan IPB ini.

Kendati demikian, ia melihat belakangan ini kualitas pesanan dari jasa akikah kerap berkurang. Pasalnya, tak hanya bobot ternak yang dipesan lebih ringan, malahan kini sudah beralih ke kambing atau domba betina akibat harganya yang lebih murah. “Kalau aturan agama boleh potong betina jika jantan yang mau dipotong lebih kurus dibandingkan betinanya. Cuma praktiknya yang dikejar bukan kualitas tapi ekonomi,” tukasnya.

Pria berusia 32 tahun ini menilai, hal itu akan berujung pada kelangkaan bibit akibat betina produktifbanyak dipotong. Sedangkan, pelaku usaha pembibitan masih jarang. Sehingga, sejak tahun lalu ia juga mulai menambah porsi pembibitan di kandangnya.

Tenaga Pemasaran

Perubahan dari pasar grosir menuju pasar ritel bukan tanpa hambatan. Pasalnya, rataan penjualan kado MT Farm mencapai 100-200 ekor/bulan. Tentu bukan perkara enteng jika mau dijual secara eceran.

Afnaan pun menyiasati dengan memperluas jaringan pemasaran melalui penambahan tenaga pemasaran dan tetap mempertahankan jaringan lama. “Jadi dengan memperbanyak marketer, terutama mahasiswa yang berjiwa usaha dan pernah magang di sini,” ujar kelahiran Salatiga, Jateng pada 3 Februari 1982 itu.

Ia menjelaskan, tenaga tambahan itu tidak terikat dengan kontrak, melainkan hanya membantu mencari konsumen. Untuk satu ekor kado yang terjual marketer ini mendapat bayaran Rp50 ribu dan Rp100 ribu saat Idul Adha.

Kemitraan

Pasar memang penting, sektor hulu pun punya andil mengamankan pasokan. Untuk itu, MT Farm melakukan system kemitraan. “Kekurangan pasokan dan ketidak sanggupan memenuhi kebutuhan, akhirnya kita kerja bareng membuat plasma agar ketersediaan selalu ada,” terang Afnaan.

Sistem kemitraan ini sudah diterapkan sejak 2011 dengan dua model. Pertama plasma pemberdayaan, bertujuan untuk memberdayakan petani dengan modal yang diperoleh dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) dan ZIS (Zakat, Infak dan Shadaqah) salah satu bank nasional. Kedua plasma bisnis, hubungannya murni untuk bisnis antara MT Farm dengan investor.

Supaya sistem ini berjalan lancar, suami dari Kurniawati Hasanah ini merancang agar peternak plasmamerasa nyaman selama masa pemeliharaan dengan memberikan jaminan harga, waktu panen, pasar, serta modal. “Selama ini tidak ada yang menjamin harga, jadi sistemnya harga beli sama dengan harga jual. Kemudian menjamin waktu panen setiap 3-4 bulan, jadi tidak harus menunggu terlalu lama, dan pasarnya jelas tanpa harus dimainkan oleh tengkulak,” paparnya.

Selain itu, dari pengamatannya, peternak yang tidak memberikan perlakuan khusus alias hanya memanfaatkan hijauan seadanya mampu menaikkan bobot hingga 5kg/ekor selama tiga bulan pemeliharaan. Artinya dalam tiga bulan peternak  bisa memperoleh pemasukan Rp350 ribu per tiga bulan jika harga kado dibanderol Rp70/kg bobot hidup.

Ia pun mematok skala usaha pemeliharaan minimal 25 ekor. Tujuannya, agar beternak menjadikan sebagai usaha utama bukan sebagai tabungan atau kerja sampingan.

“Harapannya dengan pertambahan 5 kg dalam tiga bulan peternak bisa mendapat Rp8,7 juta. Tapi itu masih dibagi lagi, 50% untuk petani, 25% investor, 15% MT Farm yang sudah menjamin dan 10% biaya operasional seperti kontrol ke kandang-kandang. Jadi kira-kira petani bisa memperoleh Rp1,4 juta/bulan. Karena dana hibah, keuntungan investor ini biasanya dialokasikan untuk pembangunan fasilitas umum,” urai Bapak yang mengaku hobi dagang tersebut.

Selain plasma pemberdayaan, plasma bisnis juga diberikan jaminan layaknya petani. Perbedaannya hanya di modal dan pembagian keuntungan. Keniakan bobot badan per tiga bulan akan dibayarkan dan selanjutnya dibeli utuh menjelang Idul Adha dengan harga beli yang sama di awal.

Pola kemitraan ini terus berkembang. Untuk plasma pemberdayaan, kurang lebih 40 petani di wilayah Bogor tergabung didalamnya. Sementara jumlah kado, baik di plasma pemberdayaan dan bisnis, berjumlah lebih dari seribu ekor.

Arfi Zulta HB

 

Sumber : agrina-online.com

Kuliah Sambil Kerja Bisa Aja, Asal…..

JAKARTA – Bekerja atau membuka usaha sendiri? Dilema ini yang mungkin menghantui para mahasiswa jelang kelulusan. Ternyata, keduanya bisa dilakukan secara bersamaan.

Demikian disampaikan Pemilik PT (admin: seharusnya “CV”) Mitra Tani Farm Budi Susilo Setiawan saat Studium  Generale ‘Pembekalan Karir Prawisuda Sarjana’ Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Budi, meniti karier dengan bekerja pada orang lain sambil berwirausaha adalah pilihan yang lebih baik daripada bekerja atau berwirausaha saja.

“Namun ada syaratnya dan harus ada prioritas. Jika kalian masih kuliah dan sambil berwirausaha, maka kuliah harus jadi prioritas utama. Sementara berwirausaha prioritas selanjutnya,” ujar Budi, seperti disitat dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (19/11/2013).

Senada dengan Budi, Direktur PT Multi Azam Sejahtera Achmad Iman menyebut, kuliah sambil beriwusaha dapat berjalan seimbang selama mahasiswa bisa membagi waktu dan berkorban.

“Jika ingin berpenghasilan lebih, maka harus memiliki penghasilan tambahan dengan berwirausaha dan harus ada yang dikorbankan. Misalnya waktu,” imbuh Achmad.

Dia menambahkan, para lulusan harus mencintai setiap pekerjaan yang ditekuni kelak. “Jika kalian ingin meniti pekerjaan dengan bekerja pada perusahaan, maka cintailah pekerjaan itu. Dengan mencintai itu bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Riset Perkebunan Indonesia (RPN) Didiek Hadjar Goenadi berbagi sejumlah pesan kepada para lulusan yang akan segera memasuki pintu gerbang dunia kerja.

“Pertama, Kalian harus bisa mengembangkan diri. Kedua, memiliki semangat dalam rangka meraih hasil terbaik, bekerja keras, pantang menyerah dan gunakanlah teknologi guna mencapai keuntungan yang berkelanjutan,” kata Didiek.

 

Sumber : news.okezone.com