Simulasi Beternak Domba Dan Kambing Dengan Kebun Rumput

Dengan simulasi, jumlah lahan yang diperlukan untuk 100 atau 105 domba dapat dihitung. Penghitungan ini dilakukan dengan dua asumsi. Asumsi pertama satu ekor domba memerlukan satu meter persegi rumput per hari. Asumsi ke dua, rumput akan tumbuh dan dapat dipanen setelah berumur 40 hari. Bila seseorang mempunyai luas lahan kebun rumput 300 bata (300×14 = 4200 meter), maka 4200 dibagi 40 hari diperoleh 105 ekor domba.

1 1234567890123456789012345678901234567890
2 1---------1---------1---------1---------
3 1---------1---------1---------1---------
4 1---------1---------1---------1---------
5 1---------1---------1---------1---------
6 1---------1---------1---------1---------
7 1---------1---------1---------1---------
8 1---------1---------1---------1---------
9 1---------1---------1---------1---------
0 1---------1---------1---------1---------

Gambar di atas mensimulasikan lahan yang terdiri atas 40m x 10m = 400m persegi. Lahan seluas 400m2 akan mampu memberi pakan sebanyak 10 domba. Oleh karena itu, lahan seluas 4000m2 akan mampu memberi pakan sebanyak 100 domba. Gambar di atas menunjukkan bahwa satu ekor domba memerlukan lahan sebanyak 40m2. Mengapa 40m2? Karena seekor domba mengkonsumsi 1m2 setiap hari. Hari berikutnya, ia harus pindah ke lahan lain sampai 40 hari agar lahan 1m2 yang pertama dapat tumbuh dan dipanen dalam 40 hari.

Sebuah rumah di kampung luasnya bisa saja 30 bata atau 420m2. Ukuran rumah ini adalah rumah “priyayi alias ningrat” karena rumah kalangan “biasa” cukup 10 bata saja. Oleh karena itu, seandainya lahan seluas 420m2 itu digunakan sebagai lahan kebun rumput, maka lahan itu akan mampu memberi pakan sebanyak 10 ekor domba.

Pakan domba ini mesti diperhitungkan dari berat domba. Pakan domba adalah 10% dari berat domba. Bila berat domba 50kg (rata-rata), maka pakan per hari domba tersebut adalah 5kg. Bila berat domba 100kg, maka pakannya adalah 10kg per hari. Bila berat domba adalah 20kg, maka pakannya adalah 2kg.

Laba
Laba dari 100 domba dari lahan 4200m2 (300 bata atau dengan kandang 400 bata) dapat dihitung. Bila modal dasar seekor domba adalah Rp 300.000,00, dan dalam satu tahun dijual Rp 1.300.000,00, maka laba seekor domba adalah 1.000.000,00. Bila dalam satu peternakan ada 100 domba, maka laba keseluruhan adalah 100 x Rp 1.000.000,00 atau Rp 100.000.000,00 setahun. Bila domba dibiakkan sendiri, maka keuntungan dapat lebih berlipat sekalipun waktu pemeliharaan relataif akan lebih lama dari satu tahun.

Pekerja
Pekerja di peternakan dapat diambil sampai empat orang. Peternakan seluas 4200m2 yang ditanami rumput (jadi kebun rumput) dengan kandang kurang lebih 100m2. Kebun rumput itu dapat tumpang sari dengan berbagai tanaman: jati, mangga, sirsak, nangka, pisang, durian dan / atau pohon bambu.
Penghitungan gaji pekerja dapat dibandingkan dengan laba yang diperoleh. Bila gaji seorang pekerja sesuai UMR adalah 750.000,00 per bulan, maka gaji per tahun adalah 7.500.000,00 + 1.400.000,00 = kurang lebih 9juta. Bila ada 4 orang pekerja, maka gaji keseluruhan adalah 4 x 9juta = 36juta per tahun atau 2,8juta per bulan. Dengan demikian, laba bersih, dipotong gaji pekerja adalah 100juta – 36juta = 64juta per tahun. Jumlah 64juta per tahun bila dibagi 12 bulan adalah 5,3juta per bulan.

Jadwal Pekerja
Pekerja yang mengurus kebun rumput dan kandang dapat dijadwal. Mereka bekerja dengan pergeseran (shift) waktu kerja. Di sini diasumsikan pekerja menunggui kandang siang-malam demi keamanan kandang dari pencurian. Karena itu, kandang di peternakan harus mempunyai pos jaga yang dilengkapi dengan listrik, air, dan barang elektronik. Juga mesti ada perabotan: kursi, meja, tempat tidur, dapur, gudang. Sangat menarik jika kandang dikonversi sebagai lahan wisata. Lahan wisata ini berarti masyarakat sekitar dapat mengunjungi, belajar dari pola peternakan ini. Jika lahan wisata dipertimbangkan secara serius, maka perlu ada warung seperti warung bakso, susu, beef steak, tengkleng, atau olahan keju.
Sistem jadwal sebaiknya setiap hari ditunggui dua pekerja. Bila hanya seorang yang menunggu kandang, orang ini akan jenuh karena tidak ada teman ngobrol. Di samping itu, ada kemungkinan ada keperluan mendesak yang memungkinkan hanya seorang yang menunggu kandang sementara seorang lainnya memenuhi kebutuhannya yang mendesak itu. Keperluan mendesak contohnya urusan rumah tangga, desa, tamu, atau undangan.
Bila pekerja ada empat orang: Ara, Wardana, Aca, Pandi maka pengaturan jadwal ialah sebagai berikut.

Siang Malam
1. Senin Ara Wardana
2. Selasa Wardana Aca
3. Rabu Aca Pandi
4. Kamis Pandi Ara
5. Jumat Ara Wardana
6. Sabtu Wardana Aca
7. Minggu Aca Pandi
8. Senin Pandi Ara dan seterusnya

Sejumlah Modal Persiapan
Modal yang harus disiapkan di antaranya adalah lahan yang strategis. Lahan strategis ini adalah lahan yang dekat dengan sumber air (sungai atau irigasi) dengan begitu, kebun rumput tidak akan kekurangan air. Bila kebun rumput kekurangan air, maka rumput tidak akan tumbuh dengan baik.
Lahan yang strategisi ini cukup 400 bata untuk 100 ekor domba. Dengan perhitungan yang sama, lahan dapat kurang atau lebih dari 400 bata. Jangan terlalu rakus! Manusia sudah punya satu lahan ingin punya lahan lain…. Manusia sudah punya satu gunung ingin punya dua gunung…. Biarkan lahan untuk manusia lain dengan usaha lain.
Lahan sebanyak 400 bata bila dinilai strategis akan berharga 400rb per bata. Dengan begitu, modal lahan adalah 160juta. Tentu saja lahan ini tidak di tengah kota, melainkan di kampung yang memungkinkan limbah kotoran domba tidak mengganggu warga. Bila lahan dipertimbangkan kurang strategis (kurang ada air atau jauh dari air) maka lahan biasanya murah, bisa hanya 50rb–100rb per bata. Dengan begitu harga modal lahan yang kurang strategis seluas 400 bata bisa saja sekitar Rp 40juta.

Modal Kandang
Sebelum mimpi dilaksanakan, terlebih dahulu harus dihitung modal kandang. Modal kandang kurang lebih 10 juta untuk baja stainles, genteng fiber, papan dan bambu.
Luas kandang adalah 1,5m2 per satu ekor domba dengan begitu, bila ada 100 domba, maka luas kandang adalah 150m2 (10,7 bata).

Tahun-tahun Awal
Untuk tahun pertama, pekerja bisa hanya dua orang. Hal ini untuk menghemat pengeluaran karena keuntungan baru diperoleh tahun depan (saat hari raya Kurban, Rayagung). Oleh karena itu, jadwal pekerja untuk dua orang adalah sebagai berikut.

Siang Malam
1. Senin Ara Dana
2. Selasa Dana Ara
3. Rabu Ara Dana
4. Kamis Dana Ara
5. Jumat Ara Dana
6. Sabtu Dana Ara
7. Minggu Ara Dana
8. Senin Dana Ara dan seterusnya

Dengan dua orang pekerja di tahun awal, gaji pekerja pun “hanya” setengahnya yaitu 1,4juta per bulan. Setelah panen di hari raya Kurban (Rayagung), pekerja dapat ditambah dengan seleksi yang ketat (disiplin).

Indisipliner
Tindakan indisipliner dapat dilakukan pekerja. Tindakan indisipliner dapat mengakibatkan resiko fatal bagi usaha. Bahkan usaha bisa bangkrut. Tindakan indisipliner itu di antaranya mangkir masuk. Bahkan yang fatal adalah pencurian atau menukar domba dengan domba yang lebih kecil. Pekerja dapat menjual domba yang besar dan menukarnya dengan domba yang lebih kecil. Dengan begitu dia dapat surplus atau keuntungan dari selisih harga jualnya. Untuk mencegahnya dapat dilakukan dokumentasi seperti foto dari domba. Bayangkan foto 100 domba dalam bentuk digital, diprint dan ditempel di kandang atau disimpan di kantor. Indisipliner yang berbahaya dapat dikenakan sanksi dari mulai teguran sampai pemecatan untuk sanksi terberat. Untuk mencegah pencurian, penukaran atau penjualan, kandang dapat dikunci dengan gembok. Dengan begitu, domba dapat dikeluarkan hanya bila ada pemilik saja.

Pagar Peternakan
Peternakan atau kebun jukut dapat dipagar dengan patok beton dan pagar bambu. Pagar bambu harus dibuat bila domba diperbolehkan untuk dikeluarkan untuk berjalan-jalan di areal peternakan. Bila kebun jukut tidak dipagar, ada kemungkinan domba keluar dari areal peternakan dan merusak sawah, kebun, atau tanaman orang lain. Oleh karena itu, di areal peternakan harus ada pohon bambu untuk membuat pagar bambu.

Hal-hal Lain
Hal lainnya yang dapat dibahas di antaranya modal bibit rumput, modal pompa (toren), pengembangan SMK dan pengembangan desa wisata peternakan.

 

Sumber : http://iswara.staf.upi.edu

Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm, di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor

Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm, di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor

Komoditas utama subsektor perternakan yang mempunyai peran strategis dalam usaha peternakan Indonesia adalah kambing dan domba. Kambing dan domba berkembangbiak dengan baik pada berbagai kondisi dan wilayah di Indonesia, setidaknya menyebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Luasnya penyebaran populasi tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di Indonesia memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan komoditas kambing dan domba, baik berupa kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, atau bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat. Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbaik untuk pengembangan ternak kambing dan domba memiliki jumlah populasi masing-masing sebesar 8.32 dan 47.01 persen dari populasi nasional. Khusus untuk ternak domba, Jawa Barat merupakan wilayah sentra ternak yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap populasi nasional. Peningkatan populasi ternak kambing dan domba di Jawa Barat relatif baik setiap tahunnya, yaitu dengan rata-rata per tahun masingmasing sebesar 9.50 dan 8.80 persen. Namun sistem usaha peternakan kambing dan domba di Indonesia khususnya di Bogor secara umum masih bersifat sambilan dari sistem usaha pertanian tanaman pangan yang hampir seluruhnya merupakan peternakan rakyat. Sistem ini ditandai dengan biaya produksi yang relatif rendah, kurang berorientasi ekonomi karena hanya merupakan tabungan dan penambal resiko kegagalan cabang usaha tani lainnya, serta bentuk usaha yang bersifat pembibitan dan penggemukan. Lain halnya dengan MT Farm, adalah salah satu peternakan kambing dan domba yang ada di Bogor yang berorientasi bisnis dikelola secara intensif dengan manajemen peternakan yang tepat. Kandang yang dimiliki bersifat permanen yang berbentuk panggung seluas ± 700 m2 dengan daya tampung 750 ekor. Untuk fasilitas pendukung kegiatan administrasi dan sebagainya, peternakan ini memiliki kantor lengkap dengan peralatan serta sarana dan prasarana pendukung lainnya. Peternakan ini juga dilengkapi kebun rumput seluas ± 1 Ha. Keberadaan MT Farm sebagai peternakan yang berorientasi bisnis yang dikelola dengan baik dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, tentunya tidak muncul dengan sendirinya. Semua itu membutuhkan modal yang besar. Untuk itu, usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh MT Farm harus layak, baik dari aspek finansial maupun aspek non finansialnya. Sejauh ini perusahaan belum mengetahui secara pasti seberapa besar manfaat (benefit) yang diperoleh perusahaan. Meskipun usaha ini telah berjalan selama 4 tahun, apakah berarti usaha yang dijalankan MT Farm ini telah layak secara finansial?. Untuk itu, maka melalui penelitian ini mencoba untuk menganalisis tingkat kelayakan finansial dan non finansial dari penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh peternakan MT Farm tersebut. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk: menganalisis kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum; menganalisis tingkat kelayakan finansial; dan menganalisis sensitivitas melalui switching value analisys usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm terhadap kenaikan harga input dan penurunan kuantitas penjualan output. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa analisis deskriptif yang dilakukan untuk mendefinisikan mengenai gambaran sistem usaha dan aspek non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum) dari usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm, sedangkan analisis data secara kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm tersebut. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C dan PP yang diolah menggunakan program Microsoft Excel. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak peternakan MT Farm. Data primer itu sendiri mencakup biaya-biaya yang dikeluarkan selama umur usaha baik biaya investasi maupun biaya operasional, serta penerimaan selama usaha berjalan. Data primer tersebut berupa data historys perusahaan. Data sekunder diperoleh dari studi literatur beberapa skripsi, internet, jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan materi penelitian ini. Selain itu, data yang diperoleh juga berasal dari observasi di lapangan. Aspek non finansial yang dimulai dari aspek pasar bahwa usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm memiliki peluang pasar yang baik. Demikian pula aspek teknis, variabel utama faktor pendukung jalannya usaha pada aspek ini menunjukkan adanya keberpihakan yang cukup baik sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik. Kemudian dari aspek manajemen terlihat adanya struktur organisasi dan pembagian tugas yang baik dengan sumberdaya manusia yang berkompeten, yang dapat dipastikan usaha ini berjalan dengan baik. Sehingga dengan demikian, usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm layak secara aspek non finansial. Analisis aspek finansial usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm selama lima tahun dengan tingkat diskonto 8.5 persen diperoleh nilai NPV sebesar Rp 359 346 744, Net B/C dan Gross B/C sebesar 2.53, IRR sebesar 11.7 persen dan PP sebesar 1.5 tahun. Hasil yang diperoleh dari masing-masing kriteria investasi tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan, sehingga usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm dinilai layak. Melalui switching value analisys menunjukkan bahwa usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm dapat mentolerir kenaikan harga input mencapai 5.34 persen dan penurunan kuantitas penjualan output sebesar 4.79 persen.
Collections

Formulasi Strategi Peningkatan Produksi Domba CV Mitra Tani Farm, Ciampea, Bogor

ABSTRACT

This research was conducted to formulate to increase the sheep production at CV Mitra Tani Farm (CV MT Farm), Ciampea, Bogor. The research was conducted using descriptive analysis by analyzing the problem experienced by CV. MitraTani Farm. Primary data and secondary data were gathered at this research. The research was also conducted using several analytical methods such as value chain mapping, internal factor evaluation (IFE) and external factor evaluation (EFE) matrix, SWOT and quantitative strategic planning matrix (QSPM). Based on the value chain analysis, the current production of sheep at CV MT farm is highly depending on the supply from its partners and internal farmers. According to the IFE and EFE results, the differences of each weighted values were respectively 2,120 and 0,686 so the position of the company in the SWOT matrix was situated at Quadrant I. Therefore the company needs to use a growth strategy. The QSPM sequenced the strategy priority as follow (1) increasing the number of lambs, (2) developing the management, (3) strengthening the capital and ownership, (4) improving the quality through technology. The result of the gross profit margin calculation, if the sheep‘s selling is increased up to 1000 sheep per month then the possible annual profit that can be earned by CV MT farm is 40,34% of the total production.

 

Keywords: MT Farm, sheep production, strategies, SWOT, QSPM, gross profit margin

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk memformulasikan strategi peningkatan produksi domba di CV Mitra Tani Farm (CV MT Farm), Ciampea, Bogor. Pendekatan penelitian yang diterapkan adalah analisis deskriptif yang dilakukan dengan mempelajari permasalahan dari objek yang diteliti. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penelitian dilakukan menggunakan alat analisis berupa pemetaan rantai nilai,  matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation), SWOT, dan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Hasil analisis rantai nilai diketahui bahwa produksi domba di CV MT farm saat ini sangat tergantung dari pasokan mitra dan petani internal. Hasil IFE dan EFE diperoleh selisih nilai tertimbang masing-masing sebesar 2,120 dan 0,686 maka diperoleh posisi perusahaan dalam matrik SWOT berada pada kuadran I. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk menggunakan strategi pertumbuhan. Urutan prioritas strategi berdasarkan QSPM adalah (1) meningkatkan jumlah bakalan, (2) pengembangan manajemen, (3) memperkuat modal dan kepemilikan, (4) meningkatkan kualitas melalui teknologi. Hasil perhitungan gross profit margin diketahui keuntungan yang diperoleh CV MT farm setiap tahunnya jika meningkatkan penjualan domba mencapai 1000 ekor/bulan adalah sebesar 40,34% dari total produksi.

 

Kata kunci: MT Farm, produksi domba, strategi, SWOT, QSPM, gross profit margin

Full Text:

FULL TEXT (Tekan disini untuk mendownload)

DOI: http://dx.doi.org/10.17358/jma.9.2.77-85

Sumber :

http://journal.ipb.ac.id

http://sinta1.ristekdikti.go.id

Pengolahan Menu Spesial Di KARASA (Kafe Rakyat Sehat) CV. Mitra Tani Farm Bogor

Komala Sari, Mia (2013) PENGOLAHAN MENU SPESIAL DI KARASA (KAFE RAKYAT SEHAT) CV. MITRA TANI FARM BOGOR.Other thesis, Teknologi Pangan.

Text
cover.pdf
Download (34Kb) | Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf
Download (19Kb) | Preview
Text
KATA PENGANTAR.pdf
Download (17Kb) | Preview
Text
kata persembahan.pdf
Download (25Kb) | Preview
Text
pkpm mia ok 11.pdf
Download (393Kb) | Preview

Abstract

CV. Mitra Tani Farm Bogor merupakan salah satu perusahaan yang sukses menjalankan usaha peternakan dan catering (usaha boga). Pelaksanaan usaha boga adalah semua proses dalam pengolahan makanan yang terdapat pada suatu usaha boga. Proses ini meliputi perencanaan menu, pengadaan bahan makanan dan perawatannya, persiapan dan pengolahan, pelayanan, penentuan harga, promosi penjualan dan lain-lain. Menu spesial yang disajikan di kafe KARASA adalah sop ayam, soto kambing, dan tonseng kambing.

Tahap-tahap pengolahan pada soto ayam, dan sop kambing adalah persiapan bahan, pengupasan dan pencucian, penghalusan, penimbangan, penumisan, pencampuran dan pemasakan serta penyajian. Tahap-tahap pengolahan tonseng kambing adalah persiapan bahan, penimbangan, penumisan, pengungkapan, penambahan kuah gulei dan pemasakan serta penyajian.

Dengan adanya Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) di CV. Mitra Tani Farm maka penulis dapat menambah wawasan dan pengalaman yang baru.

Dengan adanya Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) di CV. Mitra Tani Farm maka penulis dapat menerapkan ilmu dan mengembangkan ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan kenyataan di lapangan.

Dengan adanya Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) di CV. Mitra Tani Farm maka penulis dapat mengetahui proses pengolahan makanan yang ada di kafe KARASA.

Pengendalian dan pengawasan mutu yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan produk akhir baik juga dan terjaga kualitasnya. Sanitasi yang ditetapkan di CV. Mitra Tani Farm Bogor dimulai dari sanitasi produk, pekerja, ruangan, dan peralatan yang digunakan pada proses pengolahan.

Dalam penanganan limbah dilakukan dengan dua cara yaitu pemisahan limbah padat dan limbah cair. Sampah dapat dikumpulkan di dalam tempat sampah yang tersedia di ruangan, setelah tempat sampah tersebut penuh, sampah langsung dibuang ke tempat penampung sampah akhir. Sedangkan limbah cair langsung disalurkan melalui parit saja, karena pada Mitra Tani Farm Bogor penanganan tentang limbah cair belum begitu diperhatikan.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: T Technology > T Technology (General)
Depositing User: perpus perpustakaan politani
Date Deposited: 20 Aug 2015 01:29
Last Modified: 20 Aug 2015 01:29
URI: http://repository.politanipyk.ac.id/id/eprint/250

 

Sumber : http://repository.politanipyk.ac.id/250/

Manajemen Penyediaan Ternak Sapi sebagai Hewan Qurban di Perusahaan Mitra Tani Farm

Manajemen Penyediaan Ternak Sapi sebagai Hewan Qurban di Perusahaan Mitra Tani Farm

Management of Cattle Supply for Animal Qurban in Mitra Tani Farm

Cattle are one of livestock using for qurban. Demand of slaughtering animals for qurban is increasing per annum. Good quality of cattle can be obtained with good management husbandry. The aims of research is to study management of cattle supply for animal qurban in Mitra Tani Farm covering characteristic, breeding, production, marketing and relations of place the origin consumers with characteristic of cattle. In addition, evaluation of Good Farming Practices (GFP) against means of production line, environmental conservation and cattle supply monitoring. This research was conducted from September-February 2011 in Mitra Tani Farm, Ciampea, Bogor. This research used 22 PO, 8 Brahman cross (BX), 3 Limousin x PO (Limpo), 1 Simental x PO (Simpo) and 1 Bali cattle as samples. The samples were supplied from Mitra Tani Farm which is classified into three age group: 2, 3 and 3,5 years old. Weight body was measured before treatment. GFP in Mitra Tani Farm has been generally implemented fairly well. Otherwise, isolation cage is not provided yet, wood is still used as cage material which is easy to brittle and disinfectant is not provided for employees, cage and vehicles. Body weight range of cattle for qurban is from 211 until 270 kg, while the price range is from Rp 7.3500.001 until Rp 9.450.000. The marketing area is covering Jabodetabek and part of West Java. Chi-square correlation test (χ2) showed that there is no correlation between residence of buyers with race, weight body, age and price of cattle they chosed

 

Sapi merupakan salah satu ternak yang bisa digunakan sebagai hewan qurban. Penyembelihan hewan qurban terus meningkat setiap tahunnya. Kualitas sapi qurban yang baik dapat dihasilkan dari manajemen peternakan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari manajemen penyediaan ternak sapi sebagai hewan qurban di Mitra Tani Farm meliputi karakteristik, pengadaan bakalan, produksi, pemasaran dan hubungan daerah asal konsumen dengan karakteristik ternak sapi. Selain itu, dilakukan evaluasi Good Farming Practices (GFP) terhadap sarana, proses produksi, pelestarian lingkungan dan pengawasan dalam penyediaan ternak sapi. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2010 sampai dengan Februari 2011 di Mitra Tani Farm, Ciampea-Bogor. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 35 ekor sapi dengan rincian Sapi PO sebanyak 22 ekor, Brahman Cross (BX) sebanyak 8 ekor, Limousin x PO (Limpo) sebanyak 3 ekor , Simental x PO (Simpo) dan Bali sebanyak 1 ekor. Sampel ini diambil di Mitra Tani Farm yang diklasifikasikan menjadi tiga kelompok umur, yaitu 2, 3 dan 3,5 tahun, serta dilakukan pengukuran terhadap bobot badan (BB). Penerapan Good Farming Practices di Mitra Tani Farm pada umumnya telah berjalan dengan cukup baik. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah tidak tersedianya kandang isolasi, bahan konstruksi kandang yang lebih banyak menggunakan bahan kayu ataupun bambu sehingga mudah rapuh, tidak tersedianya desinfektan untuk karyawan, kendaraan dan kandang. Ada beberapa yang perlu ditambahkan seperti kandang isolasi, letak penampungan limbah dan penyediaan desinfektan untuk karyawan, kendaraan dan kandang. Karakteristik sapi qurban yang menjadi pertimbangan utama konsumen adalah harga dan bobot sapi qurban. Bobot sapi yang banyak dibeli konsumen berkisar 211-270 kg dengan harga sekitar Rp 7.350.001-Rp 9.450.000. Wilayah pemasaran meliputi Jabodetabek dan sebagian wilayah Jawa Barat. Uji korelasi chi-square (χ2) menunjukkan tidak ada daerah yang fanatik memilih sapi qurban berdasarkan bangsa, bobot badan, umur dan harga.