Seperti yang kita tahu bahwa masa pandemi Covid-19 memunculkan berbagai macam cara baru. Cara yang berhubungan dengan protokol kesehatan. Salah satunya adalah cara penyembelihan hewan qurban pada saat pandemi. Hal tersebut muncul agar masyarakat lebih terlindung dari penyebaran virus Covid-19. Beberapa cara penyembelihan hewan qurban bermunculan mulai segi medis hingga segi agama.

Berikut adalah pemaparan penyembelihan pada saat pandemi menurut MUI.

 

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi

Memberi petunjuk terkait penyembelihan hewan qurban dalam perayaan Idul Adha selama pandemi yang perlu di cermati. Beberapa hal itu di antaranya Yaitu:

  1. Proses penyembelihan hewan qurban.
  2. Penggunaan alat potong bersama.
  3. Kontak fisik saat mendistribusikan hewan qurban.
  4. Interaksi antar petugas di lapangan.
  5. Penggunaan peralatan dan perlengkapan terkait.

Selain itu, ia berpesan agar daging sembelihan sebisa mungkin terhindar dari kontaminasi virus. Masyarakat juga di imbau untuk tidak berkerumun menyaksikan pemotongan hewan.

“Kita harus berhati-hati karena setiap kegiatan harus di laksanakan dengan protokol kesehatan ketat,”. Kata Hari saat konferensi pers Pelaksanaan Iduladha 1442 H Aman Covid-19 bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sementara Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat KH Miftahul Huda menyampaikan agar umat melaksanakan ibadah qurban dengan protokol ketat.

 

info qurban lebih lanjut (klik disini)

 

Pada daerah zona merah, MUI menyatakan,  pelaksanaan qurban di serahkan ke rumah potong hewan saja sehingga aman. Sementara untuk daerah zona hijau, perlu memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 26 Tahun 2020.

“Terkait penyembelihannya, Komisi Fatwa MUI mengimbau melaksanakan Penyembelihan qurban tetap menjaga protokol kesehatan untuk mencegah dan meminimalisir potensi penularan. Di zona hijau, pihak yang terlibat penyembelihan harus menjaga jarak fisik. Kalau di zona merah, tetap tidak di perbolehkan, di arahkan ke rumah potong hewan, ” ujarnya.

Menurut Miftahul Huda, qurban memang tidak bisa di ganti dengan uang atau barang yang senilai. Namun, skema membayar pihak lain agar di belikan kambing dan hewan qurban itu di perbolehkan. Karena itu, mewakilkan qurban kepada pihak lain di perkenankan.

Komisi Fatwa, ujar dia, menganjurkan umat memanfaatkan Hari Tasyriq yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah untuk berqurban. Sehingga qurban tidak di laksanakan penuh dalam satu hari dan meminimalisir kerumunan.

“Komisi Fatwa juga mengimbau agar pendistribusian hewan qurban di antarkan ke rumah masing-masing panitia,” ujarnya.

Penulis : Iman Firdaus

Sumber: kompas.tv

https://mtfarm.co.id/blog/

Scroll to Top